Source Code Semesta #11: Pohon Probabilitas Kuantum dan Master Database "Lauhul Mahfudz"
Jika Tuhan melihat waktu seperti kita melihat sebuah pita film, sebuah pertanyaan brilian akan muncul: Bagaimana jika saya mengubah keputusan saya hari ini? Apakah itu berarti pita filmnya berubah? Bukankah itu berarti pita filmnya ada sangat banyak karena setiap pilihan melahirkan cabang takdir yang baru? Analisis ini sangat sejalan dengan cara kerja Fisika Kuantum serta konsep dimensi yang lebih tinggi. Bayangkan takdir itu bukan sekadar satu garis lurus (satu pita film) dari titik A ke titik B. Takdir adalah sebuah Pohon Probabilitas yang memiliki triliunan cabang dan ranting yang terus tumbuh setiap kali kamu membuat keputusan.
Sebagai manusia di dimensi 4D, kita ibarat karakter utama di dalam sebuah game interaktif yang sangat kompleks. Di setiap persimpangan hidup—apakah kamu memilih untuk bangun pagi atau tidur lagi, memilih untuk bertaubat malam ini atau mengabaikan tulisan ini—kamu sedang memilih ranting mana yang akan kamu injak. Bagi kita, kita hanya melihat dan mengalami satu ranting secara real-time. Namun bagi Sang Master Programmer yang berada di Dimensi ke-5 (di luar sistem), Dia tidak hanya melihat satu ranting yang sedang kamu injak. Dia memegang seluruh Bagan Flowchart dari pohon tersebut. Dia melihat semua cabang probabilitas secara serentak—pilihan yang kamu ambil, pilihan yang tidak kamu ambil, dan ke mana ujung dari setiap pilihan itu bermuara.
Catatan sains: Salah satu interpretasi fisika kuantum yang banyak didiskusikan para fisikawan, dikenal sebagai Many-Worlds Interpretation (MWI), menyatakan bahwa setiap keputusan kuantum melahirkan "cabang" realitas baru. Perlu dicatat bahwa ini adalah salah satu dari beberapa interpretasi mekanika kuantum yang masih diperdebatkan—ada pula interpretasi Copenhagen, De Broglie-Bohm, dan lainnya. Analogi "pohon probabilitas" di sini digunakan sebagai pendekatan filosofis, bukan sebagai klaim fisika yang sudah disepakati secara universal.
Di dalam teologi Islam, "Master Database" atau Hardisk raksasa yang menyimpan seluruh triliunan cabang probabilitas ini dikenal dengan nama Lauhul Mahfudz (Kitab Induk yang Terpelihara). Menariknya, agama juga mengenal dua jenis takdir yang sangat logis jika dibedah dengan analogi ini. Pertama adalah takdir absolut (Mubram), yaitu coding dasar yang tidak bisa kamu ubah cabangnya, seperti siapa orang tuamu, di mana kamu lahir, dan gravitasi planet tempatmu berpijak. Kedua adalah takdir kondisional (Mu'allaq), yaitu cabang-cabang ranting yang bisa berpindah dan berubah arah murni karena doa, usaha, dan pilihan-pilihan sadarmu (Kehendak Bebas).
Jadi, ketika dikatakan bahwa "Tuhan sudah mengetahui takdirmu", itu tidak berarti Tuhan memaksamu berjalan di satu lorong sempit yang gelap. Itu berarti Tuhan sudah mengetahui seluruh struktur pohon tersebut. Jika kamu memilih jalur A, Tuhan tahu akhirnya akan ke X. Jika kamu tiba-tiba menangis dan bertaubat lalu berbelok ke jalur B, Tuhan sudah tahu akhirnya akan ke Y. Perubahan arahmu tidak mengejutkan Tuhan sama sekali, karena Lorong B dan Ujung Y sudah ada di dalam database-Nya sejak sebelum semesta ini diciptakan.
Pengetahuan Tuhan yang tak terbatas justru memfasilitasi kemerdekaan kita, bukan merampasnya. Kitalah yang mengemudikan mobilnya, kitalah yang memilih persimpangannya, tapi Sang Penciptalah yang membentangkan peta jalannya dan sudah tahu persis jurang atau taman apa yang menanti di ujung setiap belokan. Memahami hal ini membuat saya tidak lagi bisa menyalahkan takdir atau Tuhan atas keburukan hidup saya. Jika saya berakhir di jalan buntu yang gelap, itu karena Software kehendak bebas saya secara sadar terus-menerus memilih cabang yang salah, mengabaikan rambu-rambu dari Update Patch (kitab suci) yang sudah Ia berikan.