Source Code Semesta #8: Kepunahan Para "NPC" dan Sejarah Singkat Dominasi Keturunan Adam
Setelah menyadari bahwa Adam adalah wujud pertama yang menerima "Software" kesadaran (Ruh) di tengah proses evolusi panjang Bumi, sebuah pertanyaan kritis yang sangat logis pasti akan muncul: Lalu, bagaimana nasib manusia-manusia purba atau hominid lain yang tidak memiliki Ruh? Bukankah secara biologi mereka sudah ada di Bumi, hidup, dan berkembang biak? Jika Adam diturunkan ke "Live Server" Bumi yang sudah berisi makhluk-makhluk bipedal ini, apa yang sebenarnya terjadi saat dua garis eksistensi ini bertemu?
Untuk menjawab teka-teki ini, kita harus melihat kembali fakta sains antropologi dan memadukannya dengan analogi game atau sistem komputasi kita. Sains mencatat bahwa ribuan tahun yang lalu, Homo sapiens tidaklah sendirian di planet ini. Bumi pernah dihuni secara bersamaan oleh berbagai spesies hominid bipedal (berjalan dua kaki), seperti Homo neanderthalensis (Neanderthal) di Eropa, Homo denisova di Asia, dan berbagai varian purba lainnya. Mereka semua memiliki Hardware otak yang cukup besar, bisa menggunakan api, dan bisa berburu. Namun, dalam kacamata teologi dan analogi kita, mereka yang tidak (atau belum) dihembuskan Ruh ini beroperasi murni layaknya NPC (Non-Player Character). Mereka digerakkan sepenuhnya oleh script algoritma biologi dasar: bertahan hidup, mencari makan, bereproduksi, dan membunuh pesaing. Tidak ada perenungan tentang penciptaan, tidak ada moralitas abstrak, dan tidak ada kehendak bebas (Free Will) untuk melawan insting hewani mereka. Inilah tepatnya "kerusakan dan pertumpahan darah" yang dikhawatirkan oleh para malaikat sebelum Adam diciptakan.
Lalu, "Player Character" pertama bernama Adam diturunkan. Adam dan keturunannya (Bani Adam) membawa sebuah sistem operasi yang sama sekali baru di Bumi: Akal dan Kesadaran Spiritual. Apa yang terjadi ketika spesies yang membawa Software super canggih ini mulai berkembang biak dan berinteraksi di habitat yang sama dengan para "NPC" tersebut? Dalam hukum alam maupun simulasi komputer, jawabannya sangat mutlak: entitas dengan sistem operasi yang lebih canggih akan dengan cepat mendominasi seluruh server. Keturunan Adam tidak hanya berburu menggunakan insting; mereka menciptakan bahasa yang sangat kompleks, membangun struktur sosial yang terikat oleh hukum moral, mengembangkan agrikultur, dan mewariskan pengetahuan dari generasi ke generasi melalui pemikiran abstrak.
Sebaliknya, makhluk-makhluk NPC (hominid non-Ruh) tidak mampu melakukan lompatan kognitif tersebut. Secara perlahan namun pasti, dalam rentang puluhan ribu tahun, hominid-hominid purba ini tersingkir. Mereka kalah bersaing dalam mencari makanan, terdesak oleh perubahan iklim, atau kalah dalam konflik teritorial. Sains modern mengonfirmasi satu fakta yang sangat menakjubkan sekaligus sejalan dengan narasi ini: saat ini, dari sekian banyak spesies manusia purba yang pernah ada, hanya ada satu spesies yang tersisa di seluruh muka Bumi, yaitu kita. Seluruh Neanderthal, Denisovan, dan Homo erectus telah punah total puluhan ribu tahun yang lalu. Server Bumi telah sepenuhnya diambil alih oleh keturunan entitas sadar.
Menariknya, biologi genetik modern menemukan fakta bahwa ada sekitar 1 hingga 4 persen jejak DNA Neanderthal di dalam tubuh manusia modern saat ini (terutama populasi di luar Afrika Sub-Sahara). Fakta ini sering kali membingungkan, namun dalam analogi IT kita, ini sangat masuk akal. Ini menunjukkan bahwa di masa lalu, sempat terjadi persilangan fisik (Hardware intermingling) antara keturunan Adam dengan hominid purba lainnya. Namun, fisik hanyalah cangkang. Yang menjadi warisan mutlak bagi setiap manusia yang hidup di Bumi hari ini—tanpa memandang ras atau benua—adalah "Software" kesadaran tersebut. Jejak para NPC itu kini hanya tersisa sebagai fosil di dalam museum dan serpihan kode genetik usang di dalam darah kita, sementara Ruh dan Akal (Software dari Adam) telah menjadi standar sistem operasi universal bagi seluruh umat manusia.
Memahami sejarah kepunahan makhluk pendahulu kita ini memberikan sebuah pelajaran spiritual yang sangat mendalam. Keberadaan kita saat ini bukanlah sebuah kebetulan biologi semata. Kita adalah pewaris tunggal dari percikan Ilahi (Divine Spark) di planet ini. Kita adalah satu-satunya entitas fisik di Bumi yang bisa melihat ke langit malam, menyadari keberadaan Sang Master Programmer, dan merasa malu atas kesalahan kita. Jika kita menyia-nyiakan Software kesadaran dan moralitas ini dengan kembali hidup semata-mata memperturutkan insting hewani (makan, bereproduksi, dan saling menjatuhkan), maka pada hakikatnya, kita sedang merendahkan derajat kita sendiri kembali menjadi seorang NPC yang tak bernyawa.