Source Code Tuhan #3: Adonan Roti Kismis dan Kesepian di Tengah Ruang yang Melar
Jika terpenjara di dalam gelembung cahaya terdengar menakutkan, fakta fisika selanjutnya jauh lebih mengerikan sekaligus mengagumkan. Alam semesta ini tidak diam mematung, melainkan terus-menerus memuai — dan kecepatan pemuaiannya semakin lama semakin brutal hingga menembus batas kecepatan cahaya itu sendiri.
Para fisikawan menggambarkan semesta kita persis seperti adonan roti kismis yang sedang dipanggang dalam oven. Kismis-kismis itu adalah galaksi-galaksi seperti Bima Sakti, sementara adonan rotinya adalah dimensi ruang-waktu 4D itu sendiri.
Saat dipanggang, kismis ukurannya tetap — diikat kuat oleh gaya gravitasi lokal. Namun adonan di antara kismis-kismis itulah yang memuai dan meregang ke segala arah, didorong oleh kekuatan misterius yang disebut Energi Gelap. Inilah yang menjawab salah satu paradoks terbesar: bagaimana bisa galaksi yang jauh menjauhi kita lebih cepat dari kecepatan cahaya tanpa melanggar hukum fisika? Kismisnya tidak pernah bergerak ngebut — "meja" adonan tempat berpijaknya yang ditarik melar secara ekstrem. Di skala besar, seluruh galaksi tetangga perlahan ditarik menjauh, terseret melewati batas cahaya senter kita, masuk ke dalam kegelapan dan hilang dari pandangan untuk selamanya.
Namun di tengah skenario masa depan yang gelap gulita itu, ada sebuah anomali kecil yang indah. Di skala lokal, gravitasi berhasil mengalahkan tarikan Energi Gelap. Galaksi kita justru sedang melesat saling mendekat dengan Galaksi Andromeda untuk bertabrakan dan melebur menjadi satu rumah baru miliaran tahun dari sekarang. Di tengah samudera kegelapan yang terus merobek jarak antar galaksi, kita sedang disiapkan alam semesta untuk saling berpegangan erat dengan tetangga terdekat.
Melihat betapa mekanis, presisi, dan teraturnya pergerakan adonan raksasa ini beroperasi tanpa campur tangan manusia, logika saya semakin dipaksa mengakui bahwa tidak mungkin sistem serumit ini tidak memiliki Sang Pengendali di balik layarnya.