Source Code Tuhan #2: Layar Ponsel, Mesin Waktu, dan Ilusi di Ujung Semesta
Setelah menyadari betapa kerdilnya ukuran fisik kita, hal berikutnya yang mengusik pikiran saya jauh lebih personal — kita terkurung di dalam penjara bernama waktu. Di dalam dimensi ke-4, ruang-waktu tempat kita beroperasi, hukum alam menetapkan satu batas kecepatan absolut yang tidak bisa diganggu gugat: kecepatan cahaya di angka 300.000 kilometer per detik. Kecepatan ini bukan sekadar angka di buku fisika, melainkan "kecepatan transfer data" maksimal dari sistem operasi alam semesta kita.
Begitu Anda menyalakan layar ponsel, partikel foton langsung melesat menuju mata Anda pada kecepatan tersebut, tanpa peduli apakah Anda sedang diam atau berlari menaiki pesawat luar angkasa. Konsep relativitas ini memaksa alam semesta mengorbankan waktu dan ruang untuk menjaga kecepatan cahaya tetap konstan di mata siapa pun.
Karena cahaya membutuhkan waktu untuk melakukan perjalanan, setiap kali kita melihat ke langit, kita sedang melihat ke masa lalu. Teleskop sejatinya adalah mesin waktu. Saat kita berjemur, kita merasakan hangatnya wujud Matahari 8 menit yang lalu. Saat menatap bintang di ujung galaksi, kita melihat cahaya yang berangkat dari sana pada masa ketika leluhur kita mungkin belum mengenal tulisan. Bahkan ketika para astronom memotret Cosmic Microwave Background — yang sering disebut "ujung" alam semesta — mereka sebenarnya hanya memotret bayi semesta berusia 13,8 miliar tahun yang cahayanya baru tiba di lensa teleskop Bumi hari ini.
Ini berarti batas alam semesta teramati yang seukuran kertas A4 tadi hanyalah sebuah ilusi. Bukan tembok fisik, melainkan sebatas jarak sejauh mana cahaya punya cukup waktu untuk sampai ke mata kita. Bayangkan Anda berdiri di tengah padang yang sangat luas dan gelap, berbekal sebuah senter. Cahaya senter itu hanya menerangi radius tertentu di sekitar Anda. Di luar radius itu, padang masih terus membentang, namun Anda tidak bisa melihatnya karena cahaya belum mencapai tempat tersebut.
Kita hidup terisolasi di dalam gelembung sinyal cahaya kita sendiri, seolah-olah selalu berada di titik pusat dari segala hal — padahal kita hanyalah kismis kecil yang belum tahu seberapa besar adonan di sekitarnya.