Source Code Tuhan #4: Waktu yang Fleksibel dan "Update Patch" Agama Abrahamik
Membedah relativitas ruang dan waktu secara sains perlahan mengarahkan saya pada persimpangan di mana fisika kuantum dan teks-teks spiritual kuno berjabat tangan dengan sangat erat. Jauh sebelum Einstein merumuskan bahwa waktu itu elastis dan bisa melambat, peradaban masa lalu telah menyampaikan pesan yang serupa.
Konsep Hindu tentang Kalpa — di mana satu hari Dewa Brahma setara dengan 4,32 miliar tahun di Bumi — hingga ayat-ayat dalam Alkitab dan Al-Qur'an yang menyatakan bahwa "sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu", membuktikan bahwa Sang Pencipta sama sekali tidak terikat oleh putaran jarum jam dalam adonan 4D yang diciptakan-Nya. Dia berada di luar sistem, melihat masa lalu dan masa depan kita dalam satu bingkai yang utuh.
Jika sistem alam semesta ini memiliki "Programmer" yang mendesainnya, tentu masuk akal jika Dia tidak membiarkan karakter di dalamnya hidup tanpa buku panduan. Saya mulai melihat rentetan agama Abrahamik bukan sebagai entitas yang saling bermusuhan, melainkan sebagai siklus Pembaruan Sistem yang diturunkan secara berkala sesuai kesiapan peradaban manusia.
Taurat di era Nabi Musa adalah Versi 1.0 — sistem operasi dasar dengan hukum keras untuk mendisiplinkan bangsa yang baru terbebas dari perbudakan. Zabur bersama Nabi Daud adalah Expansion Pack (Versi 1.5) yang berfokus pada kesehatan mental dan puji-pujian. Injil di era Yesus adalah Versi 2.0 yang membawa "patch" cinta kasih untuk mereset hukum yang sudah terlalu kaku.
Hingga akhirnya tiba masa untuk Final Patch — Al-Qur'an sebagai Versi 3.0. Perbedaan utama dari versi terakhir ini adalah bagaimana Sang Master Programmer memutuskan untuk "mengunci source code-nya". Berbeda dengan kitab terdahulu yang rentan rusak akibat peperangan atau terjemahan yang mengubah makna asli, Al-Qur'an dikirimkan pada masa di mana tradisi hafalan bangsa Arab sedang berada di puncaknya. Sistem pelestariannya tidak hanya mengandalkan kertas yang bisa lapuk, melainkan di-back up ke dalam jaringan otak jutaan manusia penghafal dengan huruf dan intonasi yang sama persis selama 14 abad.
Melalui patch terakhir ini pula, "bug" teologis seperti dosa warisan direset ke setelan pabrik menjadi konsep Fitrah — di mana setiap manusia lahir suci dan hanya membawa tanggung jawab atas filenya masing-masing.