Filosofi Kontrak Sosial #3: Beratnya Timbangan Moral di Balik Gaji Negara
Berbicara tentang gaji, fasilitas, atau anggaran negara tidaklah sama dengan menghitung laba rugi di sebuah perusahaan swasta. Ada dimensi metafisika dan moralitas yang sangat mengerikan di balik setiap lembar uang yang mengalir dari kas publik. Uang negara pada hakikatnya bukanlah sekadar kertas yang dicetak oleh bank sentral. Uang tersebut adalah kristalisasi dari keringat, waktu, dan darah jutaan rakyat. Di dalam anggaran kementerian yang nilainya triliunan itu, terdapat potongan hasil panen petani yang gagal bayar utang, terdapat pajak dari segelas kopi ojek online yang kelelahan di jalanan, dan terdapat porsi dari seorang ibu yang harus menahan lapar demi membayar retribusi. Ketika seorang pejabat, aparatur negara, atau politisi menerima gajinya, ia sebenarnya sedang memikul beban penderitaan dari seluruh warganya.
Karena itulah, korupsi atau penghamburan uang negara tidak pernah bisa disederhanakan sekadar sebagai tindak pidana pencurian biasa. Ketika seseorang merampok sebuah bank, ia berhadapan dengan satu entitas korporasi. Namun, ketika seorang pejabat menyalahgunakan jabatannya untuk memperkaya diri, memanipulasi proyek untuk keluarganya, atau sekadar bermalas-malasan sambil menikmati fasilitas yang dibiayai rakyat, ia sedang melakukan kejahatan kemanusiaan secara massal. Uang yang bocor ke kantong pribadi itu sejatinya adalah hak anak-anak pedalaman yang stunting karena gizi buruk, hak pasien yang mati perlahan di lorong rumah sakit tanpa fasilitas, dan hak warga yang celaka karena infrastruktur yang dibangun dengan kualitas rendahan. Menerima amanah untuk mengelola uang publik bukanlah sebuah pencapaian yang harus dirayakan dengan pesta pora, melainkan sebuah jalan pedang yang menuntut seseorang untuk selalu merasa diawasi oleh jutaan pasang mata rakyat yang menderita, baik yang masih hidup maupun yang telah mati akibat kelalaian sistem.